Tampilkan postingan dengan label Elektronik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elektronik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 April 2014

Mengenal Solder dan timah

Awiejayamedia,
Mengenal Solder dan Timah Elektronika tanpa solder dan timah? bisa saja, tapi seperti pakai rok tanpa celana dalam! Ok, let's begin .. Belum atau kurang mahir menyolder? Mari belajar dengan cara mudah ini. Bagi yang sudah bisa atau mahir, tinggalkan saja halaman ini daripada anda nanti hanya bikin resek saja.  Ha ha .. Anda akan mahir menyolder dengan singkat dan mudah bila mengacu pada pedoman dibawah ini.

Solder Jangan terlalu pelit, sedikitlah merogoh kocek untuk mendapatkan solder yang baik. Gordak 936A merupakan pilihan yang logis (140-180rb di WTC lantai 5 Surabaya). Panas bisa diatur dengan memutar selectornya. Saya pribadi senang dengan temperatur setinggi mungkin asalkan tidak merusak komponen (450 derajad celsius sudah terbukti aman, setidaknya buat saya, kalau anda masih lelet, turunkan temperaturnya). Bagaimana dengan solder biasa yang 35-50 ribuan itu? Tinggalkan saja, bila anda belum pernah atau jarang menyolder, dijamin anda akan mudah kabur karena pekerjaan menjadi sedikit sulit.

Gordak 936A, saya beli harganya masih Rp. 140rb di Pasar Genteng Surabaya Timah Gunakan timah ukuran 0,3mm untuk belajar. Memang sulit didapatkan di pasaran, tapi timah ukuran itu sangat memudahkan proses belajar anda, percayalah. Timah ukuran itu biasanya didapatkan dengan harga Rp. 50.000,- satu roll kecil di WTC lantai 5, Surabaya. Anda dapat memperolehnya dengan mudah di supplier alat-alat servis HP, tapi tidak di toko elektronika biasa. Kalau terpaksa gak ada? Ya pakai yang 0,8mm aja. Kalau gak ada? Ya pakai timah untuk solder panci saja, dasar pemalas! Flux Flux membantu melekatkan timah pada obyek yang hendak disolder. Selain itu juga menurunkan titik didih timah.

Demikian yang ditulis di botolnya, tapi saya sudah membuktikannya benar. Timah yang bagus sebenarnya sudah mengandung flux didalamnya, namun sekali lagi penggunaan flux cair tetap lebih memudahkan pekerjaan. Buktikan saja. Saya sarankan anda untuk mendapatkan flux cair. Kalau gak ada? Pakai yang pasta, barangkali bisa dicairkan pakai thinner A ya, saya belum coba karena saya bisa mendapatkan supply flux cair dengan mudah, namun disaat flux mengental karena lupa menutup botol, flux dengan mudah dapat diencerkan dengan thinner A.

Media dan objek solder Media/PCB dan obyek solder harus bersih. Timah ogah melekat pada obyek yang berdebu atau yang belepotan minyak karena anda bekerja sambil ngemil pisang goreng. Kalau perlu gosoklah media/obyek dengan kertas gosok dan di lap dengan menggunakan cairan thinner A. Percobaan pertama Beli PCB lobang-lobang ukuran IC di toko elektronik terdekat.

Gosok permukaan tembaganya dengan kertas gosok halus ukuran 1000 dalam keadaan basah (dalam bak air). Keringkan dengan handuk. Setelah kering, kuaskan flux cair pada permukaan tembaga dan cobalah untuk menyolder satu buah resistor. Berhasil ? mengkilap? Kerucut sempurna? Good job… langkah kemudian, cobalah menyolder komponen SMD, resistor misalnya seperti gambar dan video berikut.

Senin, 21 April 2014

Skema Lampu Led Dengan Arus Ac


Awiejayamedia,Selasa 22 April 2014,
Umumnya rangkaian Lampu LED menggunakan arus DC sebagai sumbernya, namun kali ini saya ingin memberikan Rangkaian Lampu LED dengan arus AC sebagai sumber tenaganya. 

Rangkaian ini belum sempat saya singgung pada postingan sebelumnya, dan postingan ini sekaligus sebagai jawaban dari sobat FB yang ingin sekali mengetahui Rangkaian Lampu LED dengan menggunakan arus AC atau arus listrik secara langsung tanpa menggunakan transformator. Sehingga rangkaian lebih hemat dan lebih simpel tidak memerlukan banyak komponen. Berikut ini adalah gambar rangkaiannya:

 Pada dasarnya rangkaian ini tetap menggunakan arus DC sehingga tetap saja arus AC nya harus disearahkan terlebih dahulu. Sebagai penyearah maka dibutuhkan Dioda dalam hal ini D1 dan kapasitor C2. Untuk mengurangi arus yang mengalir maka dibutuhkan pembatas arus dalam hal ini R1 sebagai pembatas arus AC dan R2 sebagai pembatas arus DC. Untuk mendapatkan cahaya lampu yang maksimal cobalah menggunakan Lampu LED super bright. 

Daftar Komponen: R1................110 K R2.................56 Ohm /2 Watt C1.................1uF/400V Poly C2.................680uF/50V D1.................4x IN4007 D2-D13.........LED Super Bright Rangkaian Lampu LED ini bisa anda fungsikan misalnya untuk Lampu tidur, lampu baca, lampu penerangan ruangan dan bisa juga dikembangkan sebagai lampu petunjuk: OPEN, Kasir, Lampu nomor rumah, nama toko dan lain-lain.Selamat berkarya!

Sabtu, 19 April 2014

Skema Rangkaian Lampu Otomatis


Awiejayamedia,
Minggu,12 April 2014,
SKEMA RANGKAIAN LAMPU OTOMATIS   "BELAJARELEKTRONIKA" Jika kita perhatikan! lampu penerangan jalan raya akan nyala secara otomatis saat keadaan sekitar gelap (malam). 

Rangkaian berikut adalah rangkaian lampu-lampu tersebut. Sebagai pendeteksi keadaan gelap kita pakai LDR. Q1 memerlukan tegangan sekitar 0.7 untuk mengaktifkan kaki basis. 

Jika kaki basis aktif maka transistor akan akatif dan relay ON. Saat LDR terkena cahaya maka hambatannya menurun sehingga tegangannya pada R2 dan R3 cukup besar (rangkaian pembagi tegangan) sehingga Q1 aktif. 

Jika pada malam hari/gelap hambatan LDR sangat besar sehingga tegangan pada R2 dan R3 kecil sehingga Q1 OFF. Lampu 220 v bisa kita sambungkan ke relay. Relay mempunyai dua pin yaitu NC (normaly close) dan NO (normaly open). Karena di siang hari relay ON sedang di malam hari OFF maka lampu kita sambung ke NC. VR digunakan untuk menentukan kepekaan sensor LDR. 

Senin, 07 April 2014

Skema Rangkaian Penetas Telur Otomatis

Selasa,8 April 2014,
By awiejayamedia,
Skema rangkaian penetas telur otomatis ini cukup sederhana dan mudah untuk dibuat. Komponen utama dari rangkaian ini adalah thermistor. Thermistor adalah komponen atau sensor elektronika yang dipakai untuk mengukur suhu. 

Prinsip dasar dari termistor adalah perubahan nilai tahanan (atau hambatan atau werstan atau resistance) jika suhu atau temperatur yang mengenai termistor ini berubah. Dengan sensor ini tentunya kita bisa mengatur suhu ruangan sesuai dengan yang kita inginkan. Oleh karena itu skema rangkaian ini bisa dipakai untuk mesin penetas telur otomatis. 

Mesin penetas telur otomatis itu pada prinsipnya ketika suhu meningkat lebih dari seharusnya atau setelannya maka pemanas atau lampu akan padam atau kipas penyedot akan menyala. Dan ketika suhu ruangan melewati batas suhu terendah maka pemanas atau lampu akan menyala. 

Skema rangkaian yang saya berikan ini sangat tepat dengan prinsip atau cara kerja dari sebuah mesin penetas telur otomatis. Skema rangkaian penetas telur otomatis Transistor menggunakan jenis PNP misal  ZT2284 atau BC557 atau BD140 Ilustrasi penempatan alat: 

Cara kerja rangkaian: Suhu ruangan untuk mesin penetas telur biasanya 37.8° C atau 100° F. Ketika suhu ruangan diatas 38°C relay akan bekerja untuk menghidupkan kipas penyedot dan mematikan lampu. Ketika suhu ruangan turun dibawah 37° C maka relay mati dan lampupun menyala. Lamanya relay bekerja diatur oleh VR2 (Hysteresis= perbandingan suhu tertinggi dengan terendah). Perbedaan suhu hanya berkisar 0.5°-1°. . VR1 mengatur tinggi rendahnya suhu yang ingin dicapai. VR3 untuk menghaluskan pengaturan suhu yang ingin dicapai. 

Catatan: Relay yang digunakan menggunakan relay yang 2 Pin, Pin pertama untuk kipas, dan pin satunya lagi bisa digunakan untuk menyalakan dan mematikan lampu. Ketika relay mendapat tegangan atau lagi bekerja maka lampu mati demikian pula sebaliknya ketika relay tidak mendapat tegangan maka lampu menyala. Jadi tidak usah membuat rangkaian yang kedua.

Sabtu, 05 April 2014

Saklar Tekan Elektronik

Minggu,6 April 2014,
By awiejayamedia,
ELECTRONICS PUSH BUTTON SWITCH - When the circuit power is turned on, C1 capacitor charges via the two 470k resistors. When the switch is pressed, the voltage on C1 is passed to directly Q3 to turn it on. This turns on Q1 and the voltage developed across R7 will keep Q1 transistor turned on when the button is released. Q2 is also turned on during this time and it discharges the capacitor.Then the switch is pressed again, the capacitor is in a discharged state and this zero voltage will be passed to Q3 transistor and turn it off. This turns off Q1 and Q2 and the capacitor begins to charge again to repeat the cycle. output is too law in here but u can increase it using the transistor. and also u can used relay with this. its depend on your   application

Skema Rangkaian Pemancar Fm dengan Transistor 2sc 1971

Minggu,6 April 2014,
By awiejayamedia,
Transmitter FM ini dapat bekerja dari range 88MHz sampai 108MHz. Rangkaian transmitter ini menggunakan final transmitter transistor 2SC1971. Sinyal RF yang telah dimodulasi dalam rangkaian transmitter ini dikuatkan dalam 3 tingkat yaitu dimulai dikuatkan pertama kali oleh penguat transistor 2SC2053 kemudian dikuatkan lagi oleh penguat 1 transistor 2SC1970 dan terakhir dikuatkan dengan penguat 1 transistor 2SC1971. Rangkaian trnsmitter FM ini dapat langsung diberikan sinyal input berupa sinyal audio. Rangkaian transmitter ini bekerja dengan sumber tegangan 12VDC untuk bagian trnsmitternya dan 9VDC untuk bgin oscilator dan mixernya. Rangkaian transmitter dalam artikel ini merupakan transmitter FM mono dan sering digunakan oleh hobiest dan amatir radio. Rangkaian detil dari transmitter ini dapat dilihat pada gabar berikut. Frekuensi kerja transmitter ini dapat diatur menggunakan potensimeter 5K dari 88MH – 108MHz. Rangkaian oscilator yang diterapkan pada transmitter ini menggunakan sistem VCO (Voltage Control Oscilator) yang disusun dengan dioda varaktor. Rangkaian transmitter ini telah lengkap dengan gambar rangkaian power supplynya ehingga dapat dipahami dengn mudah.

Boster Pemancar Fm 1970

Sobat FnC Power amplifier RF ini bekerja berdasarkan pada transistor 2SC1970 dan 2N4427. Daya keluaran rangakaian FM RF Amplifier 88-108 MHz With 2SC1970 ini sekitar 1.3W dan daya input driver adalah 30-50mW. Driver rangkaian RF amplifier ini menggunakan 2N4427 dan untuk power amplifier nya menggunakan transistor 2SC1970. Pada saat tuning rangkaian amplifier FM RF Amplifier 88-108 MHz With 2SC1970 ini sebaiknya menggunakan power meter / watt meter atau SWR atau bisa juga menggunakan RF Field meter. Rangkaian RF Amplifier ini dapat bekerja dari frekuensi 88 – 108 MHz. Rangkaian FM RF Amplifier 88-108 MHz With 2SC1970 ini dapat memancarkan RF cukup jauh. Pada saat tuning sebaiknya menggunakan dummy Load sebesar 50 Ohm. Untuk sinyal input sebaiknya dipasang VR untuk mengatur levelnya agar tidak over modulasi (30-50mW

Telepon Pemancar Fm

Minggu,6 April 2014,
By awiejayamedia,
This Phone FM transmitter connects in series to your telephone line and transmits the telephone conversation over the FM band when you pick up the telephone handset. Transmitted signal can be tuned by any FM receiver. The circuit includes an "On Air" LED indicator and also provides a switch which can be used to turn off the transmitter. A unique feature of the circuit is that no battery is needed to operate the circuit since power is taken from the telephone line. The transmitter uses only a short piece of wire aerial about 4" / 10 cm long to transmit the signal and some of the RF signal is also radiated through the telephone line itself. The circuit might be used to share or record conversations, but is not intended for illegal use.

Boster Pemancar Fm 20 Watt

Sobat , bagi anda penggemar FM Transmitter atau elektronika pada umumnya rangkaian 20Watt RF amplifier for FM 88-108 MHz ini akan sangat bermanfaat.Rangkaian ini gak perlu kita Tunning karna sudah mencakup frekwensi 88 - 108 Mhz. This RF Power amplifier is equiped with two Philips bipolar transistors : the BLV10 & BLW87. All the impedance networks (Input-Output) of this RF amplifier have been determined by using the softwares: Mimp.EXE. This RF Amplifier need a 9 elements low pass filter ensures that its harmonic frequency meet at least a 60 dB rejection from the carrier. RF FM amplifier ini mempunyai gain 21 dB dgn efisiensi antara 55 - 65%. RF Power Amplifier PCB Layout Moga bermanfaat..

Cara Membuat Pemancar Fm dari Tuner Blok

Minggu,6 April 2014,
By awiejayamedia,
Cara membuat Pemancar FM dari bekas Tuner Blok (tunner block) - Bagi anda penggemar elektronika pastinya anda sudah tau yg namanya Tuner block yg biasa terdapat pada penerima radio(radio receiver). Nah,Selain digunakan sebagai penerima radio Tuner blok FM ini sebenarnya juga bisa di manfaatkan untuk merakit pemancar FM yang praktis dan memiliki ketahanan yang tinggi terhadap goncangan/pergeseran frekuensi, artinya meskipun dipancarkan terus menerus tidak ada pergeseran frekuensi yang berarti, masih bisa stabil meskipun tidak dikendalikan dengan rangkaian PLL. Inilah kelebihan osilator yang terdapat pada tuner blok yg menggunakan rangkaian sistem osilator colppits.Tutorial Cara membuat Pemancar FM dari bekas Tuner Blok menitik beratkan pada tuner blok yg sudah tidak dipakai lagi. di bawah ini adalah skema rangkaian osilator yang terdapat di dalam tunner blog FM. Osilator yang terdapat pada tuner FM blok Pin Out tuner FM blok     Dengan penambahan rangkaian yang minimalis dapat dihasilkan sebuah racangan pemancar yang praktis tetapi berdaya cukup besar, menurut data 2SC2538 bisa keluar maksimum 0,5 Watt. rangkaian ini Jika digunakan untuk mendorong(driver) 2SC1971 atau 2SC2539 sudah mampu menghasilkan keluaran daya yang maksimal. Rangkaian penguat tiga tingkat untuk tuner FM blok Daftar Komponen C1, C7 = 223 C2,C3 = 20pF C6 = 25pF C4,C5,C8,C9 = 102 C10 = 33pF C11 = 10uF C12 = 100uF R1,R4 = 22k R2,R5 = 10 R3,R7 = 47 R6 = 33 R8 = 1k R9 = 10 Q1,Q2 = FCS9018 Q3 = 2SC2538, 2SC2053 D1 = 1N4148 L1,L2,L3,L4 = 5T IC1 = 7809    Untuk merubah frekuensi kerja tinggal putar tuner blok sesuka kehendak kita. Dengan kestabilan osilator yang dimiliki oleh tuner blok tersebut, wah asyik juga kalau digunakan untuk broadcasting. Akhirnya pun dikuatkan lagi dayanya sampai 60 watt, waktu itu saya gunakan transistor 2SC 2539 dan 2SC 2630. ditambah pula dengan Enkoder maka jadilah pemancar yang stereo. Itu saja sob semoga  Cara membuat Pemancar FM dari bekas Tuner Blok (tunner block) ini bermanfaat bagi anda

Cara Membuat Pemancar Fm untuk Radio Komunitas

Minggu,6 April 2014,
By awiejayamedia,
Dulu, saya dan temem-temen harus berfikir dua kali sebelum membangun pemancar FM alias FM Transmitter  karena pastinya akan di sweeping oleh pihak aparat berwajib. Berkat perjuangan rekan-rekan aktivis underground radio FM komunitas yang terkait pada banyak jaringan radio di Indonesia akhirnya pemerintah mengeluarkan Undang-Undang no. 32 tahun 2002 tentang penyiaran yang mengakui keberadaan lembaga penyiaran komunitas pada bagian enam pasal 22 sampai dengan pasal 24. Komunitas disini dapat berupa sekolah, tempat ibadah (masjid / gereja), RT, RW, karang taruna dll. Ijin radio komunitas dapat dimintakan ke Komite Penyiaran Indonesia (KPI) yang detail formulir maupun alamatnya dapat di lihat di Web KPI http://www.kpi.go.id. Alhamdulillaah di tulungagung izin alis prosedur KPD dan setoran cukup mudah. Karena di tulungagung gudangnya para Breaker alias pengguna radio amatir rakitan. Detail teknis pemancar FM komunitas dijelaskan dengan lebih rinci pada Keputusan Menteri Perhubungan no. 15 tahun 2003 yang di tanda tangani oleh Pak Agum Gumelar. Beberapa hal yang penting yang perlu di perhatikan, kuat daya pancar maksimum 25Watt (kira-kira equivalen dengan ERP di antenna maksimum 50Watt). Dengan ketinggian tower maksimum 20 meter. Jangkauan maksimum yang di ijinkan hanya 2.5km atau 1-2 Rukun Warga saja. Polarisasi antenna bisa vertikal, horizontal maupun sirkular. Channel yang dapat digunakan untuk radio komunitas hanya 107.7MHz, 107.8MHz, 107.9MHz. Di Jakarta mungkin agak berbeda sedikit karena 107,8MHz digunakan oleh radio milik POLDA, maka rekan-rekan komunitas FM banyak menggunakan 107.6, 107.7 dan 107.9MHz. Pemancar FM Broadcast Komunitas Frekuensi 107.7, 107.8 & 107.9MHz Max Power 50 Watt ERP Tinggi Tower 20 meter Ijin harusnya GRATIS dari KPI Bagaimanakah bentuk pemancar FM komunitas? Berapa investasinya? Dimana memperoleh peralatan tersebut? barangkali pertanyaan-pertanyaan praktis ini banyak di cari jawabnya oleh banyak rekan pemula radio. Blok diagram pemancar FM Komunitas sangat sederhana sekali. Pada gambar di bawah tampak blok sebuah pemancar FM komunitas sederhana, Sebuah pemancar FM komunitas menerima masukan dari Mixer berupa audio stereo dengan keluaran berupa sinyal radio yang di masukan ke antenna melalui kabel coaxial. Suara dan musik dimasukan ke mixer sebelum di masukan ke pemancar FM. Minimal sekali kita memerlukan beberapa microphone (mike) untuk penyiar berbicara, di samping itu akan membantu jika kita mempunyai semacam MP3 Player. Dengan semakin murahnya harga komputer, pada hari ini kebanyakan pemancar FM akan menggunakan komputer untuk memutarkan lagu karena stok / perpustakaan lagi menjadi sangat banyak sekali. Untuk sebuah sistem yang sederhana anda dapat menggunakan MP3 Player di komputer seperti Winamp (di Windows) atau XMMS (di Linux). Lagu-lagu dapat di peroleh dari CD-CD MP3 yang banyak di jual oleh pengecer CD, memang harus di akui bahwa sebagian besar CD tersebut adalah bajakan. Bagi mereka yang ingin lebih profesional, saya sarankan untuk menggunakan Linux Ubuntu dan menginstalasi software campcaster yang merupakan software untuk broadcast radio komunitas yang dapat secara gratis di ambil dihttp://www.campcaster.org. Teknik instalasi Campcaster memang bukan untuk pemula anda memerlukan pengetahuan tentang Linux untuk dapat menginstall Campcaster dengan baik. Pertanyaan praktis, dimanakah memperoleh peralatan ini? Mixer saya biasanya membeli di toko elektronik sekitar Kembang Sepatu di daerah Senen Jakarta. Jangan membawa mobil kesana, karena memang tidak ada tempat parkir. Sebuah mixer paling kecil dengan empat (4) channel dapat di beli seharga Rp. 350.000,- , Mixer yang agak lumayan untuk radio komunitas biasanya sekitar delapan (8) channel yang harganya sekitar Rp. 450.000,- . Tentunya anda harus pandai memilih dan menawar untuk memperoleh harga sedemikian rendah. Pada gambar tampak mixer dan komputer Linux Ubuntu dengan campcaster pada Kerm.IT FM. Kabel-kabel audio untuk mikrofon maupun untuk sambungan dari mixer ke berbagai peralatan audio maupun ke pemancar yang bagus biasanya menggunakan kabel buatan Jepang. Harga kabel audio stereo antara Rp. 3000-5000 / meter . Jika kita lihat peralatan di dalam-nya sebetulnya relatif sederhana sekali. Sebuah pemancar FM komunitas hanya terdiri dari pembangkit frekuensi tinggi yang dapat diatur frekuensinya, sebuah power amplifier 25 Watt dan sebuah stereo enkoder.Terakhir adalah Pemancar FM Boardcast komunitas. Pengalaman saya kalau mencari di Jakarta biasanya harganya lumayan mahal. Tampaknya banyak pembuat pemancar FM boardcast di Jawa Timur. Hal ini dapat anda deteksi dengan mudah melalui situs BEKAS.COM http://www.bekas.com pada kategori alat komunikasi pada bagian Radio Amatir. Dari sekian banyak pembuat radio pemancar FM boardcast yang relatif murah tapi masih berkualitas tampaknya saudara Dwi Hartanto, yang beralamat di Jl. Sultan Hasanudin III/16 , Tulungagung 66224, Jawa Timur yang dapat dihubungi melalui e-mail ke info@aircom-rf.com atau dwi_hartanto@telkom.net . Produk Pemancar FM boardcastnya dapat di lihat di situs beliau http://www.aircom-rf.com. Karena ketinggian tower di batasi hanya 25 meter, cara paling sederhana untuk menaikan antenna bagi pemancar FM komunitas ini adalah dengan memasang antenna ¼ panjang gelombang pada pipa ledeng. Cara paling mudah adalah mengikatkan terlebih dulu antenna ke pipa ledeng, baru di tegakan pipa ledeng tersebut. Total biaya pembuatan sebuah stasiun pemancar FM komunitas sama sekali tidak mahal. Pemancar FM stereo 25Watt beserta antenna ¼ panjang gelombang dan ongkos kirim dari Tulungagung dapat di peroleh dengan biaya Rp. 1.8 juta-an, Mixer dapat di peroleh sekitar Rp. 350-450.000,- di Kembang Sepatu Senen. Dengan kabel-kabel mikrofon, kabel coax dan pipa ledeng akan menghabiskan sekitar Rp. 2.5-3 juta sebuah pemancar FM stereo 25 Watt untuk komunitas dapat memancar. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menggugah anda semua untuk mulai memberdayakan lingkungan sekitar kita di sekolah, di RW, di masjid atau tempat peribadatan untuk siaran radio. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat.

Cara membuat Setrum Ikan

Sabtu,5 April 2014,by awiejayamedia,
Strum ikan Kalau ingin membuat rangkaian seperti di bawah ini, tentu kelasnya profesional. Artinya nyetrum ikan adalah pekerjaanya, karena di butuhkan biaya besar untuk merakitnya (klik gambar di bawah) 

Prinsip kerjanya adalah mengubah arus DC menjadi AC (seperti rangkaian inverter), tetapi dengan pembangkit frekuensi memanfaatkan delay (putus-nyambung) platina yang tertarik induksi magnetik kumparan primer. Kemudian induksi primer ini juga menginduksi kumparan skunder, sehingga keluar tegangan AC yang lebih besar. Tetapi kumparan ini harus menggunakan kawat diameter besar (0,9mm>) untuk memperoleh output yang maksimal. Ingat rumus P=VxI (daya=tegangan x kuat arus) dan daya input sama dengan daya output. Jadi walaupun tegangan output besar sewaktu di masukan ke air tidak nyetrum, karena kuat arus (ampere) menjadi kecil dan terpotong proses induksi (jika ukuran kawat terlalu kecil). 

Untuk skema di bawah mengunakan satu kumparan saja (modif) Untuk skema ini cukup menggunakan kawat dengan diameter kecil (bekas kawat trafo 3 A pun jadi) yang penting sudah bisa menginduksi platina dengan suara halus (nguuk - ngiik) jadi patokan. Kalau suara masih kasar (arak-arak) berarti kumparan kurang banyak atau kurang rapat dan juga mungkin karena faktor besi sebagai inti kumparan sebaiknya gunakan kern (besi bekas trafo). 

Jika memakai besi biasa induksi akan menjadi kasar, dan jangan lupa gunakan minimal 2 kondensator bekas motor (dengan ukuran kecil 0,0025 uF) cek satu persatu waktu dipasang (jika induksi jadi berarti kasar kondensator telah bocor/rusak). Gunakan saklar pada titik A, x sebagai ujung kawat tembaga, y sebagai jaring, pindah titik A - B jika digunakan pada air payau, untuk satu aki 12 v sudah bisa di gunakan test menyetrum (ikan kecil, udang, belut) untuk target ikan besar gunakan 3 buah aki. !HIGH VOLTAGE RISK! Jangan sampai senjata makan tuan.

Jumat, 04 April 2014

Pengertian Arus dan Tegangan Rangkaian Listrik

Minggu,6 April 2014 by awiejayamedia,
Konsep dan Pengertian Arus dan Tegangan pada Rangkaian Listrik Apa yang membuat kita kena setrum? Arus Listrik atau Tegangan Listrik? Untuk menjawabnya, kita harus paham tentang definisi / pengertian dari arus listrik dan tegangan listrik.

 Arus Listrik Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir dalam suatu rangkaian pada satu waktu. Muatan listrik yang dimaksud di sini adalah elektron. Arus listrik terjadi karena adanya aliran elektron dari kutub negatif ke kutub posisif. Pada konsepnya, elektron bergerak dari negatif ke positif, sedangkan arus listrik bergerak dari positif ke negatif? Kenapa demikian, Mari perhatikan gambar berikut: Pada gambar di atas menunjukkan sumber tegangan listrik yang disambungkan ke sebuah penghantar. Pada kutub positif penghantar, muatan negatif akan ditarik oleh muatan positif pada sumber tegangan melewati ruang-ruang kosong (Hole). Hole digambarkan dalam bentuk bulat tanpa tanda negatif "-". Sedangkan pada kutub negatif penghantar, muatan akan terisi elektron baru dari sumber tegangan, sehingga elektron pada penghantar juga terdorong untuk bergerak ke arah kutub posisitif. 

 Menurut aturan bahwa arus listrik mengalir dari positif ke negatif,sedangkan elektron mengalir dari negatif ke positif. Kenapa bisa begitu? Karena sejatinya aturan berpatokan bahwa elektron berpindah dari negatif ke positif meninggalkan hole dan mengisi hole baru maka seolah-olah hole tersebut bergerak dari positif ke negatif. Arus listrik merupakan satu dari tujuh satuan pokok dalam satuan internasional. Satuan internasional untuk arus listrik adalah Ampere (A). Secara formal satuan Ampere didefinisikan sebagai arus konstan yang, bila dipertahankan, akan menghasilkan gaya sebesar 2 x 10-7 Newton/meter di antara dua penghantar lurus sejajar, dengan luas penampang yang dapat diabaikan, berjarak 1 meter satu sama lain dalam ruang hampa udara.

 Tidak semua bahan bisa menghantarkan elektron dengan baik. Kemampuan penghantar mengalirkan elektron ditentukan oleh susunan atom dari bahan penghantar tersebut. Bahan yang mempunyai kemampuan mengalirkan elektron dengan baik disebut dengan konduktor seperi besi, tembaga, air sumur,dll. Sedangkan bahan yang sulit untuk mengalirkan elektron disebut dengan isolator, misalnya plastik, kertas, air murni (H2O), dll. Tegangan Listrik Tegangan listrik merupakan perbedaan potensial listrik antara dua titik pada suatu penghantar atau rangkaian listrik. Beda potensial adalah perbedaan jumlah elektron yang berada dalam suatu arus listrik. Di satu sisi sumber arus listrik terdapat elektron yang bertumpuk sedangkan di sisi yang lain terdapat jumlah elektron yang sedikit. Hal ini terjadi karena adanya gaya magnet yang memengaruhi materi tersebut. Dengan kata lain, sumber tersebut menjadi bertegangan listrik. 

Tegangan listrik (disebut juga voltase) identik dengan beda potensial. Pada dasarnya, beda potensial (tegangan) inilah yang menyebabkan aliran elekron dari potensial rendah (negatif) ke potensial tinggi (positif). Artinya adanya arus listrik disebabkan karena adanya tegangan listrik pada dua titik (kutub positif dan kutub negatif). Pada rangkain listik, bisa jadi setiap komponen listrik mempunyai beda potensial yang berbeda tergantung hambatan komponen tersebut. Alat untuk mengukur arus listrik adalah Ohm Meter, sedangkan alat untuk mengukur tegangan adalah Volt Meter. Tapi saat ini ada alat Multitester / Multimeter Atau AVO Meter yang multifungsi. Lalu kita kembali ke pertanyaan mendasar kita kali ini "Apa yang membuat kita kena setrum, Arus atau Tegangan?". Dari pembahasan di atas, tegangan adalah awal dari terjadinya aliran arus (elektron), jadi mereka berdua tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Tak akan ada arus yang mengalir tanpa adanya tegangan (beda potensial). Lalu kenapa kita bisa kena setrum? Jawabannya adalah karena ada tegangan listrik dan kita menjadi konduktornya (penghantarnya).

 Tubuh kita terdiri dari air dan mineral yang berfungsi sebagai konduktor listrik. Setiap kita menyentuh sumber listrik, kita akan kena setrum. Hanya saja tidak akan terasa jika voltasenya kecil. Setruman voltase kecil akan terasa jika kita mengetesnya dengan lidah, walaupun hanya 3 Volt. Coba saja, hehe.. Jika permukaan kulit kita kering, kita tidak akan tersetrum listrik sebab tak ada elektron dari listrik yang mengalir ke tubuh kita. Kesimpulannya, makin tinggi tegangan maka makin tinggi arus yang akan mengalir. Adapun efek yang akan terjadi jika kita kena setrum, tergantung hambatan (Ohm) pada tubuh kita. Makin tinggi hambatannya, maka makin kecil arus yang akan mengalir melewati tubuh kita dan kita pun lebih punya potensi untuk selamat. :D

Cara Kerja Relay

Jumat,4 April 2014,By Awiejayamedia,
Pengertian, Fungsi, Prinsip, dan Cara Kerja Relay Tahu kenapa sein motor dan mobil kita berbunyi 'tek tek tek'? Kok bisa ya ada pompa air otomatis? Itu semua adalah aplikasi dari relay. Sudah tahu apa itu relay? Bagaimana cara menggunakan relay? Relay adalah komponen listrik yang bekerja berdasarkan prinsip induksi medan elektromagnetis. Jika sebuah penghantar dialiri oleh arus listrik, maka di sekitar penghantar  tersebut timbul medan magnet. Medan magnet yang dihasilkan oleh arus listrik tersebut selanjutnya diinduksikan ke logam ferromagnetis. 

Logam ferromagnetis adalah logam yang mudah terinduksi medan elektromagnetis. Ketika ada induksi magnet dari lilitan yang membelit logam, logam tersebut menjadi "magnet buatan" yang sifatnya sementara. Cara ini kerap digunakan untuk membuat magnet non permanen. Sifat kemagnetan pada logam ferromagnetis akan tetap ada selama pada kumparan yang melilitinya teraliri arus listrik. Sebaliknya, sifat kemagnetannya akan hilang jika suplai arus listrik ke lilitan diputuskan. Berikut ini penjelasan dari gambar di atas: Amarture, merupakan tuas logam yang bisa naik turun. Tuas akan turun jika tertarik oleh magnet ferromagnetik (elektromagnetik) dan akan kembali naik jika sifat kemagnetan ferromagnetik sudah hilang. Spring, pegas (atau per) berfungsi sebagai penarik tuas. Ketika sifat kemagnetan ferromagnetik hilang, maka spring berfungsi untuk menarik tuas ke atas. 

Shading Coil, ini untuk pengaman arus AC dari listrik PLN yang tersambung dari C (Contact). NC Contact, NC singkatan dari Normally Close. Kontak yang secara default terhubung dengan kontak sumber (kontak inti, C) ketika posisi OFF. NO Contact, NO singkatan dari Normally Open. Kontak yang akan terhubung dengan kontak sumber (kontak inti, C) kotika posisi ON. Electromagnet, kabel lilitan yang membelit logam ferromagnetik. Berfungsi sebagai magnet buatan yang sifatya sementara. Menjadi logam magnet ketika lilitan dialiri arus listrik, dan menjadi logam biasa ketika arus listrik diputus.

 Aplikasi Rangkaian Pemicu Relay, ini adalah rangkaian / alat yang akan memicu relay untuk menjadi ON ketika sesuai situasi / kondisi tertentu. Rangkaian pemicu ini biasanya memiliki sensor atau rangkaian timer (memanfaatkan 'time delay'). Rangkaian yang menggunakan sensor misalnya sensor suhu, sensor air, sensor cahaya, sensor arus, dll. Sedangkan rangkain timer misalnya timer pada mesin cuci, timer tv, dll. 

Sebenarnya aplikasi relay banyak sekali. Dari mobil-mobilan, kulkas, lampu sein motor dan mobil, pompa air otomatis, hingga peralatan pada pesat terbang. Dari relay yang jenisnya kecil hingga yang mempunyai daya besar. Dari relai DC 5 volt, 12 volt hingga yang bervoltase tinggi. Keuntungan kita dalam menggunakan relay: Kita bisa membuat rangkaian otomatis penyambung/pemutus (switch) tegangan  AC dan DC Relay bisa digunakan pada switch tegangan tinggi Relay juga menjadi solusi pada switch dengan arus yang besar Bisa melakukan swith pada banyak kontak dalam waktu yang bersamaan Jika mau bertanya atau berdiskusi, silakan isi komentar. Masukan dan sarannya juga sangat kami butuhkan.. :)

Cara Menentukan Kaki Transistor

Sabtu,5 April 2014 by awiejayamedia,
Cara Menentukan Kaki Transistor dengan AVO Digital / Analog Sebenarnya kali ini saya ingin fokus pada bagaimana lebih memahami tentang kaki-kaki pada transistor. Ketika melakukan pengukuran atau menentukan kaki-kaki transistor, kita kadang menggunakan AVO digital atau yang analog. Nah, saya mengalami kebingungan ketika hasilnya berbeda. Yang saya tangkap, pengukuran transistor dengan AVO digital dan analog hasilnya berkebalikan. :O Saya tidak tahu apakah AVO saya rusak atau memang begitu dari pabriknya. Tansistor itu dasarnya adalah diode/dioda. Dan dioda bisa kita identikkan dengan LED. Walaupun LED dan dioda sangat beda dalam implementasinya, tapi LED itu dioda yang mengeluarkan cahaya. Jadi LED itu juga punya pin positif dan negatif. Oke gambar di samping adalah gambar AVO meter yang saya gunakan. Perhatikan pada pemeriksaan LED di bawah ini. Yang sebelah kanan lednya nyalanya redup. Tapi yand diperhatikan adalah probe kabel positif dan negatifnya. Ada yang aneh bukan? Jika menggunakan AVO yang analog, maka led akan menyala jika positif-negatifnya dibalik. Nah, hal ini mempengaruhi pada pengukuran transistor juga. Transistor PNP akan terdeteksi sebagai NPN jika didefinisikan dengan warna probe yang kita gunakan. Jika probe merah adalah positif dan probe hitam adalah negatif, maka jika menggunakan AVO analog, transistor akan aktif jika probenya dibalik. Menentukan Kaki Transistor (Emitor, Kolektor, Basis) Perhatikan gambar berikut : Kaki transistor seperti dua buah dioda yang disambung berhadapan atau bertolak belakang. Tentunya jika kita menganggap sisi depan adalah sisi positif dan belakang adalah sisi negatif. Menentukan Basis Kaki basis adalah kaki yang berkebalikan dengan kaki emitor dan kolektor. Jika basis positif, maka emitor dan kolektor bernilai negatif. Jika basis negatif, maka emitor dan kolektor adalah positif. Jika dibuat skemanya, transistor jenis NPN dan PNP diambil dari jenis kaki-kaki transistor (Emitor-Basis-Kolektor). (Emitor-Basis-Kolektor) -> ( E - B - C ) == ( N - P - N ) ( E - B - C ) == ( P - N - P ) ohm(B-C). Perlu diperhatikan, jika kita menggunakan AVO Analog, maka kita harus sedikit lebih jeli untuk membedakan posisi penunjukan jarum. Sebab selisihnya sangat sedikit. Jadi, untuk mengamatinya, kita harus dari sudut pandangan yang tidak berubah. Sebab sudut pandangan yang berbeda membuat pengukuran tidak sama. Itulah kekurangan AVO meter analog. Hehe. 1. Cek lagi posisi probe (+) ke pin 1 dan probe (-) ke pin 2, anggap saja menunjuk angka 7 pas. 2. Selanjutnya probe (+) di pin 3 dan probe (-) ke pin 2, ternyata jarum menunjuk di bawah angka 7. Dari pemeriksaan di atas, hambatan/tahanan pin(1-2) atau pin(Emitor-Basis) lebih besar daripada hambatan pin(2-3) atau pin (Basis-Kolektor), sehingga pin 1-2-3 adalah E-B-C (emitor-basis-kolektor) Penentuan Emitor dan Kolektor agak sulit jika menggunakan AVO Analog, sebab bisa karena kekeliruan pengamatan atau tingkat kepekaan AVO itu sendiri. Sehingga, hal juga bisa dilakukan adalah dengan pengamatan secara visual atau penampakan transistor itu sendiri. Kolektor : Jika di body/badan ada logamnya. Maka salah satu kaki akan terhubung logam tersebut. Nah, kaki yang terhubung ke logam tersebut adalah Kolektor. Periksa dengan AVO, jika short / jarum bergerak menyimpang ketika menyentuhkan pada logam di body dan salah satu pin, maka pin tersebut adalah Kolektor. Sisanya, adalah Emitor. Jika tidak ada logam di body transistor, maka biasanya di sambungan body bagian atas ada tanda garisnya lebih tebal daripada garis sambungan. Pencarian dengan AVO Digital Pencarian dengan AVO Digital berkebalikan dengan AVO Analog. Misal pada contoh satu : Transistor NPN terdeteksi dengan probe P-N-P. Sedangkan jika dengan AVO Digital, Transistor NPN akan terdeteksi dengan probe N-P-N. Untuk memulai, putar panah untuk menunjuk ohm yang ada lambang diodanya. Menentukan kaki Basis 1. Probe (-) pada pin 1 dan probe (+) pada pin 2, hasilnya : lcd menampilkan angka tertentu. 2. Probe (-) pada pin 3 dan probe (+) pada pin 2, hasilnya : lcd menampilkan angka tertentu. 3. Selain itu, tampilan lcd akan diam atau hanya menunjukkan angka 1. Berarti pin 2 adalah basis. Menentukan kaki Emitor dan Kolektor Jika menggunakan AVO Analog berdasarkan hambatan/tahanan. Maka pada AVO digital, yang tampak pada layar adalah voltase bias majunya. Jadi yang muncul pada tampilan lcd adalah voltase. Jika volatse antara pin 1 dan pin 2 lebih besar dari voltase antara pin 3 dan pin 2, maka pin 1 adalah emitor. Perhatikan tabel berikut : +-------+-------+---------+ | POSISI PROBE  | Voltase | +-------+-------+---------+ | pin 1   | pin 2    | 819        | +-------+-------+---------+ | pin 3    | pin 2   | 813        | +-------+-------+---------+ Berikut adalah hasil pengukuran beberapa transisitor :

Cara Menentukan Kaki Kaki Basis Emitor Colektor Pada Transistor

Jumat,4 April 2014,by awiejayamedia,
Cara Menentukan Kaki Transistor dengan AVO Digital / Analog Sebenarnya kali ini saya ingin fokus pada bagaimana lebih memahami tentang kaki-kaki pada transistor. 

Ketika melakukan pengukuran atau menentukan kaki-kaki transistor, kita kadang menggunakan AVO digital atau yang analog. Nah, saya mengalami kebingungan ketika hasilnya berbeda. Yang saya tangkap, pengukuran transistor dengan AVO digital dan analog hasilnya berkebalikan. :O Saya tidak tahu apakah AVO saya rusak atau memang begitu dari pabriknya. Tansistor itu dasarnya adalah diode/dioda. Dan dioda bisa kita identikkan dengan LED. Walaupun LED dan dioda sangat beda dalam implementasinya, tapi LED itu dioda yang mengeluarkan cahaya. Jadi LED itu juga punya pin positif dan negatif. Oke gambar di samping adalah gambar AVO meter yang saya gunakan. Perhatikan pada pemeriksaan LED di bawah ini. Yang sebelah kanan lednya nyalanya redup. 

Tapi yand diperhatikan adalah probe kabel positif dan negatifnya. Ada yang aneh bukan? Jika menggunakan AVO yang analog, maka led akan menyala jika positif-negatifnya dibalik. Nah, hal ini mempengaruhi pada pengukuran transistor juga. Transistor PNP akan terdeteksi sebagai NPN jika didefinisikan dengan warna probe yang kita gunakan. Jika probe merah adalah positif dan probe hitam adalah negatif, maka jika menggunakan AVO analog, transistor akan aktif jika probenya dibalik. Menentukan Kaki Transistor (Emitor, Kolektor, Basis) Perhatikan gambar berikut : Kaki transistor seperti dua buah dioda yang disambung berhadapan atau bertolak belakang. 

Tentunya jika kita menganggap sisi depan adalah sisi positif dan belakang adalah sisi negatif. Menentukan Basis Kaki basis adalah kaki yang berkebalikan dengan kaki emitor dan kolektor. Jika basis positif, maka emitor dan kolektor bernilai negatif. Jika basis negatif, maka emitor dan kolektor adalah positif. Jika dibuat skemanya, transistor jenis NPN dan PNP diambil dari jenis kaki-kaki transistor (Emitor-Basis-Kolektor). (Emitor-Basis-Kolektor) -> ( E - B - C ) == ( N - P - N ) ( E - B - C ) == ( P - N - P ) ohm(B-C). 

Perlu diperhatikan, jika kita menggunakan AVO Analog, maka kita harus sedikit lebih jeli untuk membedakan posisi penunjukan jarum. Sebab selisihnya sangat sedikit. Jadi, untuk mengamatinya, kita harus dari sudut pandangan yang tidak berubah. Sebab sudut pandangan yang berbeda membuat pengukuran tidak sama. Itulah kekurangan AVO meter analog. Hehe. 1. Cek lagi posisi probe (+) ke pin 1 dan probe (-) ke pin 2, anggap saja menunjuk angka 7 pas.

 2. Selanjutnya probe (+) di pin 3 dan probe (-) ke pin 2, ternyata jarum menunjuk di bawah angka 7. Dari pemeriksaan di atas, hambatan/tahanan pin(1-2) atau pin(Emitor-Basis) lebih besar daripada hambatan pin(2-3) atau pin (Basis-Kolektor), sehingga pin 1-2-3 adalah E-B-C (emitor-basis-kolektor) Penentuan Emitor dan Kolektor agak sulit jika menggunakan AVO Analog, sebab bisa karena kekeliruan pengamatan atau tingkat kepekaan AVO itu sendiri. Sehingga, hal juga bisa dilakukan adalah dengan pengamatan secara visual atau penampakan transistor itu sendiri. Kolektor : Jika di body/badan ada logamnya. Maka salah satu kaki akan terhubung logam tersebut. Nah, kaki yang terhubung ke logam tersebut adalah Kolektor.

 Periksa dengan AVO, jika short / jarum bergerak menyimpang ketika menyentuhkan pada logam di body dan salah satu pin, maka pin tersebut adalah Kolektor. Sisanya, adalah Emitor. Jika tidak ada logam di body transistor, maka biasanya di sambungan body bagian atas ada tanda garisnya lebih tebal daripada garis sambungan. Pencarian dengan AVO Digital Pencarian dengan AVO Digital berkebalikan dengan AVO Analog. Misal pada contoh satu : Transistor NPN terdeteksi dengan probe P-N-P. Sedangkan jika dengan AVO Digital, Transistor NPN akan terdeteksi dengan probe N-P-N. Untuk memulai, putar panah untuk menunjuk ohm yang ada lambang diodanya. 

Menentukan kaki Basis 1. Probe (-) pada pin 1 dan probe (+) pada pin 2, hasilnya : lcd menampilkan angka tertentu. 2. Probe (-) pada pin 3 dan probe (+) pada pin 2, hasilnya : lcd menampilkan angka tertentu. 3. Selain itu, tampilan lcd akan diam atau hanya menunjukkan angka 1. Berarti pin 2 adalah basis. Menentukan kaki Emitor dan Kolektor Jika menggunakan AVO Analog berdasarkan hambatan/tahanan. Maka pada AVO digital, yang tampak pada layar adalah voltase bias majunya. Jadi yang muncul pada tampilan lcd adalah voltase. Jika volatse antara pin 1 dan pin 2 lebih besar dari voltase antara pin 3 dan pin 2, maka pin 1 adalah emitor. Perhatikan tabel berikut : +-------+-------+---------+ | POSISI PROBE  | Voltase | +-------+-------+---------+ | pin 1   | pin 2    | 819        | +-------+-------+---------+ | pin 3    | pin 2   | 813        | +-------+-------+---------+ Berikut adalah hasil pengukuran beberapa transisitor :