Jumat, 04 April 2014

Cara Kerja Relay

Jumat,4 April 2014,By Awiejayamedia,
Pengertian, Fungsi, Prinsip, dan Cara Kerja Relay Tahu kenapa sein motor dan mobil kita berbunyi 'tek tek tek'? Kok bisa ya ada pompa air otomatis? Itu semua adalah aplikasi dari relay. Sudah tahu apa itu relay? Bagaimana cara menggunakan relay? Relay adalah komponen listrik yang bekerja berdasarkan prinsip induksi medan elektromagnetis. Jika sebuah penghantar dialiri oleh arus listrik, maka di sekitar penghantar  tersebut timbul medan magnet. Medan magnet yang dihasilkan oleh arus listrik tersebut selanjutnya diinduksikan ke logam ferromagnetis. 

Logam ferromagnetis adalah logam yang mudah terinduksi medan elektromagnetis. Ketika ada induksi magnet dari lilitan yang membelit logam, logam tersebut menjadi "magnet buatan" yang sifatnya sementara. Cara ini kerap digunakan untuk membuat magnet non permanen. Sifat kemagnetan pada logam ferromagnetis akan tetap ada selama pada kumparan yang melilitinya teraliri arus listrik. Sebaliknya, sifat kemagnetannya akan hilang jika suplai arus listrik ke lilitan diputuskan. Berikut ini penjelasan dari gambar di atas: Amarture, merupakan tuas logam yang bisa naik turun. Tuas akan turun jika tertarik oleh magnet ferromagnetik (elektromagnetik) dan akan kembali naik jika sifat kemagnetan ferromagnetik sudah hilang. Spring, pegas (atau per) berfungsi sebagai penarik tuas. Ketika sifat kemagnetan ferromagnetik hilang, maka spring berfungsi untuk menarik tuas ke atas. 

Shading Coil, ini untuk pengaman arus AC dari listrik PLN yang tersambung dari C (Contact). NC Contact, NC singkatan dari Normally Close. Kontak yang secara default terhubung dengan kontak sumber (kontak inti, C) ketika posisi OFF. NO Contact, NO singkatan dari Normally Open. Kontak yang akan terhubung dengan kontak sumber (kontak inti, C) kotika posisi ON. Electromagnet, kabel lilitan yang membelit logam ferromagnetik. Berfungsi sebagai magnet buatan yang sifatya sementara. Menjadi logam magnet ketika lilitan dialiri arus listrik, dan menjadi logam biasa ketika arus listrik diputus.

 Aplikasi Rangkaian Pemicu Relay, ini adalah rangkaian / alat yang akan memicu relay untuk menjadi ON ketika sesuai situasi / kondisi tertentu. Rangkaian pemicu ini biasanya memiliki sensor atau rangkaian timer (memanfaatkan 'time delay'). Rangkaian yang menggunakan sensor misalnya sensor suhu, sensor air, sensor cahaya, sensor arus, dll. Sedangkan rangkain timer misalnya timer pada mesin cuci, timer tv, dll. 

Sebenarnya aplikasi relay banyak sekali. Dari mobil-mobilan, kulkas, lampu sein motor dan mobil, pompa air otomatis, hingga peralatan pada pesat terbang. Dari relay yang jenisnya kecil hingga yang mempunyai daya besar. Dari relai DC 5 volt, 12 volt hingga yang bervoltase tinggi. Keuntungan kita dalam menggunakan relay: Kita bisa membuat rangkaian otomatis penyambung/pemutus (switch) tegangan  AC dan DC Relay bisa digunakan pada switch tegangan tinggi Relay juga menjadi solusi pada switch dengan arus yang besar Bisa melakukan swith pada banyak kontak dalam waktu yang bersamaan Jika mau bertanya atau berdiskusi, silakan isi komentar. Masukan dan sarannya juga sangat kami butuhkan.. :)

Cara Kerja Jalur Port Usb

Khamis,3 April 2014 by awiejayamedia,
Sudah Tahu Cara Kerja, Skema, dan Jalur Port USB? USB atau kita panjangkan menjadi Universal Serial Bus, merupakan external port device yang sudah pasti ada di setiap komputer dan laptop. 

Fungsinya adalah sebagai media koneksi data antara komputer dan perangkat dan aksesoris yang menggunakan colokan USB seperti printer, modem, ponsel, cooling fan, flashdisk, dan lain-lain. Misalkan dengan flashdisk, kita bisa memindahkan data dari komputer ke komputer lain melalui colokan kecil ini. 

Kini USB sudah versi 3.0, tentu lebih cepat daripada versi 1.1 dan 2.0. Kali ini kita belum akan membahas versi-versi USB tersebut, akan tetapi kita akan belajar tentang cara kerja dan skemanya. Untuk selanjutnya, kita bedakan dulu anatara USB jenis Cowok (Male) dan Cewek (Female). USB Cowok adalah yang interface USB yang menempel di device eksternal misal flashdisk. Sedangkan USB Cewek adalah colokan USB pada komputer dan laptop. Dari gambar di atas, colokan USB mempunya empat pin. 

Dua pin untuk power dan dua pin sisanya untuk jalur data. Pin 1 sebagai penyuplai power dengan tegangan +5 Volt DC, sedangkan untuk Ground-nya ada di Pin 4. Sehingga kombinasi dari kedua pin ini bisa kita manfaat untuk tenaga / power, misalkan untuk memutar kipas pada cooling fan, untuk charger ponsel, dan lain-lain. Sedangkan untuk Pin 2 dan 3 adalah untuk mengirim dan menerima data. Misalnya ketika kita meng-copy file dari laptop ke flashdisk, maka datanya akan lewat di Pin 2 dan 3.

 Nah, berikut ini adalah gambar radio yang powernya disuplai dari port USB. Radio tersebut sebenarnya menggunakan power supply dari trafo. Hanya saja untuk fleksibilitas, saya menyuplai tegangan sumbernya dari colokan USB.

Cara Menentukan Kaki Transistor

Sabtu,5 April 2014 by awiejayamedia,
Cara Menentukan Kaki Transistor dengan AVO Digital / Analog Sebenarnya kali ini saya ingin fokus pada bagaimana lebih memahami tentang kaki-kaki pada transistor. Ketika melakukan pengukuran atau menentukan kaki-kaki transistor, kita kadang menggunakan AVO digital atau yang analog. Nah, saya mengalami kebingungan ketika hasilnya berbeda. Yang saya tangkap, pengukuran transistor dengan AVO digital dan analog hasilnya berkebalikan. :O Saya tidak tahu apakah AVO saya rusak atau memang begitu dari pabriknya. Tansistor itu dasarnya adalah diode/dioda. Dan dioda bisa kita identikkan dengan LED. Walaupun LED dan dioda sangat beda dalam implementasinya, tapi LED itu dioda yang mengeluarkan cahaya. Jadi LED itu juga punya pin positif dan negatif. Oke gambar di samping adalah gambar AVO meter yang saya gunakan. Perhatikan pada pemeriksaan LED di bawah ini. Yang sebelah kanan lednya nyalanya redup. Tapi yand diperhatikan adalah probe kabel positif dan negatifnya. Ada yang aneh bukan? Jika menggunakan AVO yang analog, maka led akan menyala jika positif-negatifnya dibalik. Nah, hal ini mempengaruhi pada pengukuran transistor juga. Transistor PNP akan terdeteksi sebagai NPN jika didefinisikan dengan warna probe yang kita gunakan. Jika probe merah adalah positif dan probe hitam adalah negatif, maka jika menggunakan AVO analog, transistor akan aktif jika probenya dibalik. Menentukan Kaki Transistor (Emitor, Kolektor, Basis) Perhatikan gambar berikut : Kaki transistor seperti dua buah dioda yang disambung berhadapan atau bertolak belakang. Tentunya jika kita menganggap sisi depan adalah sisi positif dan belakang adalah sisi negatif. Menentukan Basis Kaki basis adalah kaki yang berkebalikan dengan kaki emitor dan kolektor. Jika basis positif, maka emitor dan kolektor bernilai negatif. Jika basis negatif, maka emitor dan kolektor adalah positif. Jika dibuat skemanya, transistor jenis NPN dan PNP diambil dari jenis kaki-kaki transistor (Emitor-Basis-Kolektor). (Emitor-Basis-Kolektor) -> ( E - B - C ) == ( N - P - N ) ( E - B - C ) == ( P - N - P ) ohm(B-C). Perlu diperhatikan, jika kita menggunakan AVO Analog, maka kita harus sedikit lebih jeli untuk membedakan posisi penunjukan jarum. Sebab selisihnya sangat sedikit. Jadi, untuk mengamatinya, kita harus dari sudut pandangan yang tidak berubah. Sebab sudut pandangan yang berbeda membuat pengukuran tidak sama. Itulah kekurangan AVO meter analog. Hehe. 1. Cek lagi posisi probe (+) ke pin 1 dan probe (-) ke pin 2, anggap saja menunjuk angka 7 pas. 2. Selanjutnya probe (+) di pin 3 dan probe (-) ke pin 2, ternyata jarum menunjuk di bawah angka 7. Dari pemeriksaan di atas, hambatan/tahanan pin(1-2) atau pin(Emitor-Basis) lebih besar daripada hambatan pin(2-3) atau pin (Basis-Kolektor), sehingga pin 1-2-3 adalah E-B-C (emitor-basis-kolektor) Penentuan Emitor dan Kolektor agak sulit jika menggunakan AVO Analog, sebab bisa karena kekeliruan pengamatan atau tingkat kepekaan AVO itu sendiri. Sehingga, hal juga bisa dilakukan adalah dengan pengamatan secara visual atau penampakan transistor itu sendiri. Kolektor : Jika di body/badan ada logamnya. Maka salah satu kaki akan terhubung logam tersebut. Nah, kaki yang terhubung ke logam tersebut adalah Kolektor. Periksa dengan AVO, jika short / jarum bergerak menyimpang ketika menyentuhkan pada logam di body dan salah satu pin, maka pin tersebut adalah Kolektor. Sisanya, adalah Emitor. Jika tidak ada logam di body transistor, maka biasanya di sambungan body bagian atas ada tanda garisnya lebih tebal daripada garis sambungan. Pencarian dengan AVO Digital Pencarian dengan AVO Digital berkebalikan dengan AVO Analog. Misal pada contoh satu : Transistor NPN terdeteksi dengan probe P-N-P. Sedangkan jika dengan AVO Digital, Transistor NPN akan terdeteksi dengan probe N-P-N. Untuk memulai, putar panah untuk menunjuk ohm yang ada lambang diodanya. Menentukan kaki Basis 1. Probe (-) pada pin 1 dan probe (+) pada pin 2, hasilnya : lcd menampilkan angka tertentu. 2. Probe (-) pada pin 3 dan probe (+) pada pin 2, hasilnya : lcd menampilkan angka tertentu. 3. Selain itu, tampilan lcd akan diam atau hanya menunjukkan angka 1. Berarti pin 2 adalah basis. Menentukan kaki Emitor dan Kolektor Jika menggunakan AVO Analog berdasarkan hambatan/tahanan. Maka pada AVO digital, yang tampak pada layar adalah voltase bias majunya. Jadi yang muncul pada tampilan lcd adalah voltase. Jika volatse antara pin 1 dan pin 2 lebih besar dari voltase antara pin 3 dan pin 2, maka pin 1 adalah emitor. Perhatikan tabel berikut : +-------+-------+---------+ | POSISI PROBE  | Voltase | +-------+-------+---------+ | pin 1   | pin 2    | 819        | +-------+-------+---------+ | pin 3    | pin 2   | 813        | +-------+-------+---------+ Berikut adalah hasil pengukuran beberapa transisitor :

Cara Menentukan Kaki Kaki Basis Emitor Colektor Pada Transistor

Jumat,4 April 2014,by awiejayamedia,
Cara Menentukan Kaki Transistor dengan AVO Digital / Analog Sebenarnya kali ini saya ingin fokus pada bagaimana lebih memahami tentang kaki-kaki pada transistor. 

Ketika melakukan pengukuran atau menentukan kaki-kaki transistor, kita kadang menggunakan AVO digital atau yang analog. Nah, saya mengalami kebingungan ketika hasilnya berbeda. Yang saya tangkap, pengukuran transistor dengan AVO digital dan analog hasilnya berkebalikan. :O Saya tidak tahu apakah AVO saya rusak atau memang begitu dari pabriknya. Tansistor itu dasarnya adalah diode/dioda. Dan dioda bisa kita identikkan dengan LED. Walaupun LED dan dioda sangat beda dalam implementasinya, tapi LED itu dioda yang mengeluarkan cahaya. Jadi LED itu juga punya pin positif dan negatif. Oke gambar di samping adalah gambar AVO meter yang saya gunakan. Perhatikan pada pemeriksaan LED di bawah ini. Yang sebelah kanan lednya nyalanya redup. 

Tapi yand diperhatikan adalah probe kabel positif dan negatifnya. Ada yang aneh bukan? Jika menggunakan AVO yang analog, maka led akan menyala jika positif-negatifnya dibalik. Nah, hal ini mempengaruhi pada pengukuran transistor juga. Transistor PNP akan terdeteksi sebagai NPN jika didefinisikan dengan warna probe yang kita gunakan. Jika probe merah adalah positif dan probe hitam adalah negatif, maka jika menggunakan AVO analog, transistor akan aktif jika probenya dibalik. Menentukan Kaki Transistor (Emitor, Kolektor, Basis) Perhatikan gambar berikut : Kaki transistor seperti dua buah dioda yang disambung berhadapan atau bertolak belakang. 

Tentunya jika kita menganggap sisi depan adalah sisi positif dan belakang adalah sisi negatif. Menentukan Basis Kaki basis adalah kaki yang berkebalikan dengan kaki emitor dan kolektor. Jika basis positif, maka emitor dan kolektor bernilai negatif. Jika basis negatif, maka emitor dan kolektor adalah positif. Jika dibuat skemanya, transistor jenis NPN dan PNP diambil dari jenis kaki-kaki transistor (Emitor-Basis-Kolektor). (Emitor-Basis-Kolektor) -> ( E - B - C ) == ( N - P - N ) ( E - B - C ) == ( P - N - P ) ohm(B-C). 

Perlu diperhatikan, jika kita menggunakan AVO Analog, maka kita harus sedikit lebih jeli untuk membedakan posisi penunjukan jarum. Sebab selisihnya sangat sedikit. Jadi, untuk mengamatinya, kita harus dari sudut pandangan yang tidak berubah. Sebab sudut pandangan yang berbeda membuat pengukuran tidak sama. Itulah kekurangan AVO meter analog. Hehe. 1. Cek lagi posisi probe (+) ke pin 1 dan probe (-) ke pin 2, anggap saja menunjuk angka 7 pas.

 2. Selanjutnya probe (+) di pin 3 dan probe (-) ke pin 2, ternyata jarum menunjuk di bawah angka 7. Dari pemeriksaan di atas, hambatan/tahanan pin(1-2) atau pin(Emitor-Basis) lebih besar daripada hambatan pin(2-3) atau pin (Basis-Kolektor), sehingga pin 1-2-3 adalah E-B-C (emitor-basis-kolektor) Penentuan Emitor dan Kolektor agak sulit jika menggunakan AVO Analog, sebab bisa karena kekeliruan pengamatan atau tingkat kepekaan AVO itu sendiri. Sehingga, hal juga bisa dilakukan adalah dengan pengamatan secara visual atau penampakan transistor itu sendiri. Kolektor : Jika di body/badan ada logamnya. Maka salah satu kaki akan terhubung logam tersebut. Nah, kaki yang terhubung ke logam tersebut adalah Kolektor.

 Periksa dengan AVO, jika short / jarum bergerak menyimpang ketika menyentuhkan pada logam di body dan salah satu pin, maka pin tersebut adalah Kolektor. Sisanya, adalah Emitor. Jika tidak ada logam di body transistor, maka biasanya di sambungan body bagian atas ada tanda garisnya lebih tebal daripada garis sambungan. Pencarian dengan AVO Digital Pencarian dengan AVO Digital berkebalikan dengan AVO Analog. Misal pada contoh satu : Transistor NPN terdeteksi dengan probe P-N-P. Sedangkan jika dengan AVO Digital, Transistor NPN akan terdeteksi dengan probe N-P-N. Untuk memulai, putar panah untuk menunjuk ohm yang ada lambang diodanya. 

Menentukan kaki Basis 1. Probe (-) pada pin 1 dan probe (+) pada pin 2, hasilnya : lcd menampilkan angka tertentu. 2. Probe (-) pada pin 3 dan probe (+) pada pin 2, hasilnya : lcd menampilkan angka tertentu. 3. Selain itu, tampilan lcd akan diam atau hanya menunjukkan angka 1. Berarti pin 2 adalah basis. Menentukan kaki Emitor dan Kolektor Jika menggunakan AVO Analog berdasarkan hambatan/tahanan. Maka pada AVO digital, yang tampak pada layar adalah voltase bias majunya. Jadi yang muncul pada tampilan lcd adalah voltase. Jika volatse antara pin 1 dan pin 2 lebih besar dari voltase antara pin 3 dan pin 2, maka pin 1 adalah emitor. Perhatikan tabel berikut : +-------+-------+---------+ | POSISI PROBE  | Voltase | +-------+-------+---------+ | pin 1   | pin 2    | 819        | +-------+-------+---------+ | pin 3    | pin 2   | 813        | +-------+-------+---------+ Berikut adalah hasil pengukuran beberapa transisitor :

Kamis, 03 April 2014

Honda Supra Series Teririt di Kelasnya

Khamis,3 April 2014,by awiejayamedia,

Honda Supra Series teririt di Kelasnya

Honda Supra series – kurang banter tapi laris 88 Comments Huft Huft sorry baru posting, kemaren-kemaren sibuk di dunia nyata hehehe. Honda Bebek bisa dibilang motor semilyar umat, mulai dari keluarnya di Jepang tahun 1958, motor ini terus berevolusi dan berkembang kemana mana. Di Inggris, laku, di Thailand, laku, di Indo, wah super laku, di Jepang dewe, kemaren kan Honda tambah ngelurin Honda Supercub 110 hehehe. Salah satu evolusi Honda C50 dan C70 di Indonesia adalah Honda Supra Series dan Revo series yang sangat terkenal, bahkan Supra lebih familiar diucapkan karena jumlahnya banyak dan sudah lama di Indonesia, kalau diitung2 tahun ini pas 15 tahun nama Honda Supra membuat Honda bertahan menjadi raja motor bebek di Indonesia (walaupun gitu batangan Honda kayak CBR, NSR, CB Series, Mega-Pro, GL Series juga ga kalah ngetop lho) hehehe :

D. Honda Supra saking laku dan populernya dapet tempat spesial dari Honda, buktinya Supra X 125 kan yang pertama kali di PGM-FI kan di Indonesia, bukan Honda MegaPro atau Tiger yang menurut saya lebih potensial hehehe. Mungkin Supra X di PGM-FI kan duluan dengan harapan bisa mengenalkan teknologi Injeksi pada masyarakat Indonesia, tapi sayangnya Supra X 125 Injeksi yang lama kurang laku dan yang malah laku Yamaha Vixion yang juga Injeksi RedBike FBH ya? ooo tidak bisa, tapi terserah menurut pembaca sih hahaha Nama Supra aslinya bukan cuma punyanya AHM doank, ada Toyota Supra, ada sepatu supra, tapi yang paling terkenal ya Honda Supra? coba aja tanya orang polos (kayak yang punya blog :mrgreen:) tau supra ga? jawaban mereka pasti “Oohh yang sepeda motor itu ya?” jarang ada yang jawab “Ooh sepatu yang sering dibuat nge-dance itu ya” atau “Ooh mobil sport 2 pintu (bukan pickup lho ya) dari Toyota itu ya?” hehehe.

Ya jelas lah, sebagai penerus Honda Astrea Grand dan harganya lumayan terjangkau motor ini memang laris luar biasa pada masanya (sampai masa kini hehehe). Sumber dari dealer Honda bilang, cub terlaris ya Honda Supra X 125 Supra ala Justin Beiber Supra-nya orang Jepang Soal Honda Supra, motor ini memang sesuatu banget, dari jaman orde baru (1997) sampe jaman Reformasi ini (2012) motor ini terkenal kurang bisa diajak ngebut (dibanding saingannya satu kelas mesin), harganya dianggap overprice, modelnya bebek banget (ya memang ini motor bebek atau cub, masa modelnya kayak Fukuda :roll: ). Yang naik cuma kapasitas mesinnya dari 100 cc (Astrea Supra, Astrea Supra X, Supra V, Supra XX, Supra Fit, Supra Fit New, Fit X ==>katanya mesinnya warisan Honda Grand) jadi 125cc (Supra X lama, Supra X lampu alien, Supra X Helm In==>katanya mesinnya warisan Honda Kharisma) dan ukuran bagasinya yang tambah besar (Supra 100 cc bagasinya cukup buat jas ujan doank, Supra Helm In bisa makan helm). Udah gitu motor ini laris luar biasa, bahkan Yamaha ngeluarin Jupiter Series belum bisa ngalahin Supra penjualannya. Kenapa ya Honda Supra yang biasa biasa aja, bisa laris manis kayak cakue Peneleh @pasar atom, Surabaya (mahal tapi laris kan). Terutama dipakai ama anak SMA ama yang masih kuliahan :mrgreen:

1. Supra Laris karena katanya ga isa lari Honda Supra X 100, Supra Fit, dan New Supra Fit katanya top speednya cuma 90kph (versi spedometer lho), dan bahkan temen saya bilang top speed Supra Fitnya cuma 80kph. Nah larinya kayak gitu kok isa laris? pertama buat anak SMA dan kuliahan yang belum bisa cari duit sendiri, sepeda motor masih dibeliin ama mama papa dengan 2

2.metode : pertama cash kedua nyicil hehehe. Karena yang beli orang tua kita, maka tujuan beli motor itu biar anaknya lebih cepat sampe sekolah (atau kampus) dengan nyaman, aman, dan selamat.

Nah kalau motornya kenceng2 kan jadi ga aman dan bisa bisa anaknya ga selamat, bukannya kalau motor kenceng kayak Ninja, Vixion, CBR, dll, kan bisa bawanya pelan2. Rek, ga munafik yo, tapi bukane sebagai ABG (cowok atau cewek sama aja) kan kalau lihat throtle gas maunya diputer poll, ga peduli jalan rame atau sepi, maune gas poll terus, ga urus didepan ada lobang, becak, polisi tidur, bemo (angkot atau mikrolet tergantung tulisane). Mungkin sang anak sudah dipeseni “Nak nek sepedaan (sepeda motoran) jangan banter2 ya” tapi biar lebih amannya dikasih aja sekalian motor yang powernya terbatas (walaupun kalau Supra 125 di gas poll ya banter juga). Kenapa kok aku isa kasih alasan kayak gitu nah ini ceritanya : Dulu saya pernah disenggol Toyota Avanza, sampe ndlosor, ya salah saya juga sih mbalap kok dari kiri? Jupiter Z tahun 2004 sukses ndlosor dan batok headlamnya baret. Malamnya mama bilang “besok kamu bawa Supra Fitnya mama aja, enak pelan2, aman. Fit di dalam Fit diluar (?!?!?!?!) 2. BeRes Honda buanyak Memang ga semua BeRes itu Beres. Tapi dengan banyaknya beres berati kalau motor sewaktu-waktu ada masalah gampang kan diperbaiki dan yang pasti sparepartsnya banyak baik itu di Bengkel resmi atau bengkel umum langganan. Jadi ga perlu jauh-jauh ke bengkel resmi yang kadang2 ga sebanyak AHASS, cukup jalan berapa ratus meter ketemu beres hehe. Kalau ga beres pindah ke BeRes lain aja gampang kan.

3. Setir yang enteng Riding potition Honda, menurut ane lebih enak daripada Yamaha (ini subyektip lho ya teman), selain itu setirnya enteng, jadi ga berat buat menyelinap diantara gedung gedung dan atap atap bangunan mengintai musuh di antara mobil2 pas macet. Jadi walaupun bodynya semok, asal setirnya gampang diputer ama tarikan rpm rendahnya enak ya ga masalah pas macet, paling2 kalau kelewat semok dan jalan kelewat sempit ya nyangkut di pantat mobil depan hehehehe (kalau soal ini sih ane sering kesangkut, kalau dipaksain jalan ya spion ketabok spion mobil lain = ngajak-gelut.com). Jadi kalau menurut pendapat ane motor ini enak dipake harian (tapi enak menurut saya kan belum tentu enak menurut kamu) 4. Katanya enak dipake siapa aja buat apa aja kemana aja???  Kelebihan motor bebek adalah enak dipake siapa aja, kemana saja dan lewat jalan apapun (berlubang, mulus, becek, jalan kampung, jalan paving, jalan aspal, jalan langit, jalan bawah tanah, jalan bawah laut, jalan sesat, jalan buntu). Enaknya Supra (yang selama ini saya pake) adalah bisa dipake sapa aja, papa, mama, opa, oma, kakak, adik, kakak ipar, kura2 peliharaan, anjing peliharaan, tikus dapur dan kemana aja enak, mau dibawa ke pasar, enak, dibawa kerja enak, dibawa touring…boleh (apalagi Supra Helm In tangkinya besar). Belum lagi ruang kosong di depannya multi fungsi, ditambahi centelan bisa bawa belanjaan, ditambahi jepitan bisa bawa buku gambar, Dan salah satu inovasi Honda Helm In dan Honda Spacy adalah bagasi yang besar, bisa buat nyimpen helm biar aman (pernah kan kecolongan helm), kalau ga ada helmnya kan bisa buat nyimpen buku2, komik2, tempat pensil, kotak makan, botol minum, shuriken, sikat gigi, sikat kawat, sikat wc dan lain2 asal muat dan jok bisa nutup hahaha. 5. Gosipnya,

Harga jual kembali Tinggi Ini sih mitos, 10 tahun yang lalu memang harga jual Honda Supra seken masih tinggi2nya (beda dikit ama harga barunya), tapi jaman sekarang rasanya Harga Jual Honda agak jatuh (ini perasaan aja paleng yo). Soale gini, Konon katanya kualitas mesin Honda yang lama jauh lebih baik dari Honda yang baru, katanya lhoo ya, ane kan bukan ahli mesin. Tapi ga semua orang memperhatikan harga jual bekasnya. Soalnya ada tipe orang yang motor itu belinya baru dan dipake sampai 5 tahun, 10 tahun, bahkan mamanya mantan Ane pake motornya sampai 31 tahun (1981-2012) dan bakal dipake terus sampe dia bisa beli baru lagi atau motor itu bener2 rusak ga isa dibetulin lagi. 6. Kenangan kehebatan mesin C-Series Honda Astrea Supra sampe Honda Fit X pake mesin C-Series-nya Honda, yup mesin setipe yang dipake sama Honda C50-C70 (disebut Honda pitung, Honda wulung, dll), yang awet, ga gampang rusak, gampang diperbaiki (sparepart kw-nya banyak :mrgreen: ) irit dan suara nya relatif halus dengan kenalpot standar(orang jaman dulu banget katanya suka kendaraan yang suaranya halus). Masalahnya Honda Revo Absolute sama Honda Supra Helm In masih dianggap pake mesin C- Series, padhal udah ga lagi sob. “Pokoknya kan bebek Helm In saya atau Revo saya kan mesinnya enak, tambah panas larinya tambah jozz, dan irit” ya ga ada seng salah seh. 7. Modelnya universal Jupiter MX, Satira FU, TVS Tormax, ambek Honda CS 1 memang modelnya lebih kerenan dari Honda Supra series yang modelnya masih bebek banget. Tapi ini kan motor bebek bro, masa modelnya kayak Fukuda ( emepek empek campur sayur lodeh, cape dehh :roll: ). Makanya bener kita para ABG (Anak Baru Gede) atau ABD (Anak Baru Dewasa) kalau naik Jupiter MX atau Satria FU lebih keren 1 lv. Tapi katanya Jupiter MX atau Satria FU kurang nyaman dipake ABG (Anak Baru Gocap), ini katanya lhoo ya (saya sih enak2 aja pake MX-nya temen hehehe). Kata para ABG (Anak baru Gocap – Gocap = 50) kalau beli Supra dia bisa pake, anak nya juga ga malu make juga hehehe. Ya 7 hal diatas itu yang menurut saya membuat Honda Supra walaupun terkenal ga isa banter2 amat (masalahnya ga semua orang butuh banter), udah pasaran, batok lampunya kadang getar, tangki bensinnya kecil (kecuali Supra X 125 Helm In), bodynya tapi tetap laris manis kayak kacang goreng dengan segala kelebihannya hehehe. Worth it ga beli Supra? ya ga isa ngomong itu kan penilaian.sampeyan sendiri hehehe :D yang jelas apapun motornya, rawat aja dengan baik, dilapi, dicuci, diganti oli rutin, diperiksai apa apa yang mati (btw lampu kota Supra X ane yang kiri mati belum sempat nge-ganti lhoo hehehe)

Rabu, 02 April 2014

Harga Sepeda Motor Honda Baru dan Bekas

Harga sepeda Motor Honda Baru dan Bekas

Khamis,3 April  2014
Likes: Share on facebook 1.6K Main Menu Home Harga Motor >>   Harga Aksesoris >>   Iklan Motor >>     Daftar Harga Motor Honda April 2014 Price apply at Jabodetabek area. New motorcycle price base on survei from many dealers at Jakarta. Price apply "On The Road" , except mark as * Used motorcycle price base on average price at Poskota and Kompas. The actual price can be big different, depend on condition, year, any modification, seller purpose, etc. The prices update monthly. Diff = price this month - price last month (+ increase , - decrease, in IDR)

New Motorcycle Prices Type OTR Price (IDR) Diff Price (IDR)

Absolute Revo CW 13.225.000 0 Absolute Revo STD 12.450.000 0 Beat FI CBS 14.600.000 215.000 Beat FI CW 13.750.000 250.000 Beat FI STD 12.700.000 0 Blade CW 14.650.000 0 Blade R 14.950.000 150.000 Blade Repsol 15.125.000 125.000 Blade S 14.600.000 200.000 CB150R StreetFire 23.425.000 275.000 CBR 150 R 41.750.000 0 CBR 150 R Repsol 42.500.000 0 CBR 250 R ABS 56.700.000 0 CBR 250 R ABS Repsol 57.950.000 0 CBR 250 R STD Repsol 49.950.000 0 CBR 250 R STD RWB & Merah 48.950.000 0 City Sport 1 17.300.000 0 CS One 17.600.000 0 New Mega Pro CW 20.100.000 0 New Mega Pro FI 20.450.000 0 New Mega Pro Std 18.900.000 0 New Revo FI CW 14.100.000 275.000 New Revo FI FIT 12.700.000 200.000 New Revo FI STD 13.250.000 200.000 PCX 36.800.000 0 Revo FIT 11.900.000 0 Revo SW 12.450.000 0 Revo Techno AT 16.000.000 0 Scoopy FI 14.800.000 300.000 Spacy Helm-In PGM-FI 13.650.000 200.000 Spacy Helm-In SW 11.900.000 0 Spacy STD 11.940.000 0 Supra X 125 CW 16.150.000 0 Supra X 125 FI CW 16.400.000 0 Supra X 125 FI STD 15.350.000 0 Supra X 125 Helm-In PGM-FI 16.800.000 25.000 Supra X 125 Spoke 15.100.000 0 Supra X 125 STD 15.100.000 0 Tiger 25.850.000 0 Vario CW 15.050.000 100.000 Vario Techno 125 CBS ISS 17.200.000 85.000 Vario Techno 125 PGM-FI 15.550.000 0 Vario Techno 125 PGM-FI CBS 16.450.000 0 Vario Techno 125 STD 15.900.000 100.000 Vario Techno NCBS 15.400.000 0 Vario Techno Non CBS 15.550.000 0 Verza 150 CW 18.140.000 500.000 Verza 150 SW 17.050.000 500.000

Used Motorcycle Prices Type Year Average Price (IDR) Diff Price (IDR)

Astera Grand 1996 2.200.000 -400.000 Astera Grand 1997 2.500.000 -250.000 Beat 2008 7.500.000 -300.000 Beat 2009 8.000.000 -200.000 Beat 2010 8.500.000 -500.000 Beat 2011 9.000.000 -500.000 Beat 2012 9.500.000 0 Beat CW 2008 7.500.000 -500.000 Beat CW 2009 8.000.000 -400.000 Beat CW 2010 8.500.000 -800.000 Beat CW 2011 9.300.000 -300.000 Beat CW 2012 10.000.000 0 Blade 2009 6.100.000 -50.000 Blade 2010 6.900.000 -300.000 Blade 2011 8.200.000 -300.000 Blade 2012 9.200.000 0 Blade CW 2009 6.000.000 0 Blade CW 2010 6.600.000 0 Blade CW 2011 7.400.000 0 Blade Repsol 2009 6.500.000 0 Blade Repsol 2010 7.000.000 0 Blade Repsol 2011 8.700.000 -200.000 Blade Repsol 2012 9.600.000 0 CBR 150R 2005 16.000.000 0 CBR 150R 2006 17.000.000 0 CBR 150R 2007 20.000.000 0 CS 1 2008 6.600.000 0 CS 1 2009 7.200.000 0 CS 1 2010 8.500.000 0 GL Max 2002 4.300.000 -200.000 GL Max 2003 4.600.000 -200.000 GL Max 2004 4.900.000 -200.000 GL Max 2005 5.300.000 -200.000 GL Pro Neotech 1998 4.200.000 0 Grand 1996 2.000.000 0 Grand 1997 2.300.000 0 Kharisma 125D 2003 3.500.000 0 Kharisma 125D 2004 4.000.000 0 Kharisma 125D 2005 4.500.000 0 Kharisma 125D 2006 5.000.000 0 Kharisma X 2004 4.000.000 0 Kharisma X 2005 4.400.000 0 Kharisma X 2006 4.800.000 0 Kirana 2003 3.200.000 0 Kirana 2004 3.500.000 0 Kirana 2005 3.800.000 0 Legenda 2002 2.600.000 0 Legenda 2003 2.800.000 0 Legenda 2004 3.000.000 0 Legenda 2005 3.200.000 0 Mega Pro 2000 4.700.000 0 Mega Pro 2001 4.900.000 0 Mega Pro 2002 5.200.000 0 Mega Pro 2003 5.600.000 0 Mega Pro 2004 6.200.000 0 Mega Pro 2005 7.100.000 0 Mega Pro 2006 8.000.000 0 Mega Pro 2007 9.000.000 0 Mega Pro 2008 10.000.000 0 Mega Pro 2009 11.200.000 0 Mega Pro 2010 12.500.000 0 Mega Pro 2011 14.000.000 0 Mega Pro 2012 15.500.000 0 Mega Pro CW 2006 8.500.000 0 Mega Pro CW 2007 9.500.000 0 Mega Pro CW 2008 10.500.000 0 Mega Pro CW 2009 11.700.000 0 Mega Pro CW 2010 13.000.000 0 Mega Pro CW 2011 14.500.000 0 Mega Pro CW 2012 16.000.000 0 PCX 2010 26.000.000 0 PCX 2011 30.000.000 0 Revo CW Abs 2007 5.000.000 0 Revo CW Abs 2008 5.400.000 0 Revo CW Abs 2009 5.900.000 0 Revo CW Abs 2010 6.500.000 0 Revo CW Abs 2011 7.100.000 0 Revo CW Abs 2012 7.900.000 0 Revo Std Abs 2007 4.800.000 100.000 Revo Std Abs 2008 5.000.000 -100.000 Revo Std Abs 2009 5.300.000 0 Revo Std Abs 2010 5.800.000 0 Revo Std Abs 2011 6.500.000 0 Revo Std Abs 2012 7.600.000 0 Scoopy 2010 8.400.000 0 Scoopy 2011 9.100.000 0 Scoopy 2012 10.000.000 0 Supra Fit 2003 3.400.000 0 Supra Fit 2004 3.600.000 0 Supra Fit 2005 3.800.000 0 Supra Fit 2006 4.000.000 -200.000 Supra Fit 2007 4.300.000 -300.000 Supra Fit 2008 4.600.000 -200.000 Supra Fit X 2007 4.100.000 0 Supra Fit X 2008 4.500.000 0 Supra Fit X 2009 5.600.000 0 Supra X CW 2006 6.300.000 0 Supra X CW 2007 7.000.000 0 Supra X CW 2008 7.700.000 0 Supra X CW 2009 8.400.000 0 Supra X CW 2010 9.400.000 0 Supra X CW 2011 10.900.000 0 Supra X Std 2000 3.200.000 -100.000 Supra X Std 2001 3.300.000 -200.000 Supra X Std 2002 3.500.000 -200.000 Supra X Std 2003 3.700.000 0 Supra X Std 2004 4.000.000 0 Supra X Std 2005 4.500.000 0 Supra X Std 2006 5.500.000 0 Supra X Std 2007 6.200.000 0 Supra X Std 2008 6.900.000 0 Supra X Std 2009 7.900.000 0 Supra X Std 2010 9.100.000 0 Supra X Std 2011 10.500.000 0 Tiger 2002 6.500.000 0 Tiger 2003 7.000.000 0 Tiger 2004 7.500.000 0 Tiger 2005 8.000.000 0 Tiger 2006 9.100.000 0 Tiger 2007 11.200.000 0 Tiger 2008 14.800.000 0 Tiger 2009 15.900.000 0 Tiger CW 2001 6.800.000 0 Tiger CW 2003 7.200.000 0 Tiger CW 2005 7.800.000 0 Tiger Revo CW 2006 10.000.000 0 Tiger Revo CW 2007 11.000.000 0 Tiger Revo CW 2008 12.000.000 0 Tiger Revo CW 2009 13.500.000 0 Tiger Revo CW 2010 15.500.000 0 Tiger Revo CW 2011 18.000.000 0 Tiger Revo CW 2012 20.500.000 0 Vario 2006 6.600.000 0 Vario 2007 7.000.000 0 Vario 2008 7.500.000 0 Vario 2009 8.100.000 0 Vario 2010 8.900.000 0 Vario CW 2006 6.800.000 0 Vario CW 2007 7.300.000 0 Vario CW 2008 7.800.000 0 Vario CW 2009 8.500.000 0 Vario CW 2010 9.300.000 0 Vario CW 2011 10.000.000 0 Vario CW 2012 11.000.000 0 Vario Techno CBS 2009 10.100.000 0 Vario Techno CBS 2010 10.900.000 0 Vario Techno CBS 2011 11.800.000 0 Vario Techno CBS 2012 13.000.000 0 Vario Techno CBS 2013 14.400.000 0 Win 2002 3.800.000 0 Win 2003 4.200.000 0 Win 2004 4.600.000 0 Win 2005 5.000.000 0   Copyright © 2014 Harga Motor - All Rights Reserved by awiejayamedia2u.blogspot.com.

Harga Sepeda Motor Honda Sechond

Khamis,3 April 2014 by awiejayamedia,

Used Motorcycle Prices Type Year Average Price (IDR) Diff Price (IDR) 

Astera Grand 1996 2.200.000 -400.000 Astera Grand 1997 2.500.000 -250.000 Beat 2008 7.500.000 -300.000 Beat 2009 8.000.000 -200.000 Beat 2010 8.500.000 -500.000 Beat 2011 9.000.000 -500.000 Beat 2012 9.500.000 0 Beat CW 2008 7.500.000 -500.000 Beat CW 2009 8.000.000 -400.000 Beat CW 2010 8.500.000 -800.000 Beat CW 2011 9.300.000 -300.000 Beat CW 2012 10.000.000 0 Blade 2009 6.100.000 -50.000 Blade 2010 6.900.000 -300.000 Blade 2011 8.200.000 -300.000 Blade 2012 9.200.000 0 Blade CW 2009 6.000.000 0 Blade CW 2010 6.600.000 0 Blade CW 2011 7.400.000 0 Blade Repsol 2009 6.500.000 0 Blade Repsol 2010 7.000.000 0 Blade Repsol 2011 8.700.000 -200.000 Blade Repsol 2012 9.600.000 0 CBR 150R 2005 16.000.000 0 CBR 150R 2006 17.000.000 0 CBR 150R 2007 20.000.000 0 CS 1 2008 6.600.000 0 CS 1 2009 7.200.000 0 CS 1 2010 8.500.000 0 GL Max 2002 4.300.000 -200.000 GL Max 2003 4.600.000 -200.000 GL Max 2004 4.900.000 -200.000 GL Max 2005 5.300.000 -200.000 GL Pro Neotech 1998 4.200.000 0 

Grand 1996 2.000.000 0 Grand 1997 2.300.000 0 Kharisma 125D 2003 3.500.000 0 Kharisma 125D 2004 4.000.000 0 Kharisma 125D 2005 4.500.000 0 Kharisma 125D 2006 5.000.000 0 Kharisma X 2004 4.000.000 0 Kharisma X 2005 4.400.000 0 Kharisma X 2006 4.800.000 0 Kirana 2003 3.200.000 0 Kirana 2004 3.500.000 0 Kirana 2005 3.800.000 0 Legenda 2002 2.600.000 0 Legenda 2003 2.800.000 0 Legenda 2004 3.000.000 0 Legenda 2005 3.200.000 0 Mega Pro 2000 4.700.000 0 Mega Pro 2001 4.900.000 0 Mega Pro 2002 5.200.000 0 Mega Pro 2003 5.600.000 0 Mega Pro 2004 6.200.000 0 Mega Pro 2005 7.100.000 0 Mega Pro 2006 8.000.000 0 Mega Pro 2007 9.000.000 0 Mega Pro 2008 10.000.000 0 Mega Pro 2009 11.200.000 0 Mega Pro 2010 12.500.000 0 

Mega Pro 2011 14.000.000 0 Mega Pro 2012 15.500.000 0 Mega Pro CW 2006 8.500.000 0 Mega Pro CW 2007 9.500.000 0 Mega Pro CW 2008 10.500.000 0 Mega Pro CW 2009 11.700.000 0 Mega Pro CW 2010 13.000.000 0 Mega Pro CW 2011 14.500.000 0 Mega Pro CW 2012 16.000.000 0 PCX 2010 26.000.000 0 PCX 2011 30.000.000 0 Revo CW Abs 2007 5.000.000 0 Revo CW Abs 2008 5.400.000 0 Revo CW Abs 2009 5.900.000 0 Revo CW Abs 2010 6.500.000 0 Revo CW Abs 2011 7.100.000 0 Revo CW Abs 2012 7.900.000 0 Revo Std Abs 2007 4.800.000 100.000 Revo Std Abs 2008 5.000.000 -100.000 Revo Std Abs 2009 5.300.000 0 Revo Std Abs 2010 5.800.000 0 Revo Std Abs 2011 6.500.000 0 Revo Std Abs 2012 7.600.000 0 Scoopy 2010 8.400.000 0 Scoopy 2011 9.100.000 0 Scoopy 2012 10.000.000 0 Supra Fit 2003 3.400.000 0 Supra Fit 2004 3.600.000 0 Supra Fit 2005 3.800.000 0 Supra Fit 2006 4.000.000 -200.000 Supra Fit 2007 4.300.000 -300.000 Supra Fit 2008 4.600.000 -200.000 

Supra Fit X 2007 4.100.000 0 Supra Fit X 2008 4.500.000 0 Supra Fit X 2009 5.600.000 0 Supra X CW 2006 6.300.000 0 Supra X CW 2007 7.000.000 0 Supra X CW 2008 7.700.000 0 Supra X CW 2009 8.400.000 0 Supra X CW 2010 9.400.000 0 Supra X CW 2011 10.900.000 0 Supra X Std 2000 3.200.000 -100.000 Supra X Std 2001 3.300.000 -200.000 Supra X Std 2002 3.500.000 -200.000 Supra X Std 2003 3.700.000 0 Supra X Std 2004 4.000.000 0 Supra X Std 2005 4.500.000 0 Supra X Std 2006 5.500.000 0 Supra X Std 2007 6.200.000 0 Supra X Std 2008 6.900.000 0 Supra X Std 2009 7.900.000 0 Supra X Std 2010 9.100.000 0 Supra X Std 2011 10.500.000 0 Tiger 2002 6.500.000 0 Tiger 2003 7.000.000 0 Tiger 2004 7.500.000 0 Tiger 2005 8.000.000 0 Tiger 2006 9.100.000 0 Tiger 2007 11.200.000 0 Tiger 2008 14.800.000 0 Tiger 2009 15.900.000 0 Tiger CW 2001 6.800.000 0 Tiger CW 2003 7.200.000 0 Tiger CW 2005 7.800.000 0 Tiger Revo CW 2006 10.000.000 0 Tiger Revo CW 2007 11.000.000 0 Tiger Revo CW 2008 12.000.000 0 Tiger Revo CW 2009 13.500.000 0 Tiger Revo CW 2010 15.500.000 0 Tiger Revo CW 2011 18.000.000 0 Tiger Revo CW 2012 20.500.000 0 Vario 2006 6.600.000 0 Vario 2007 7.000.000 0 

Vario 2008 7.500.000 0 Vario 2009 8.100.000 0 Vario 2010 8.900.000 0 Vario CW 2006 6.800.000 0 Vario CW 2007 7.300.000 0 Vario CW 2008 7.800.000 0 Vario CW 2009 8.500.000 0 Vario CW 2010 9.300.000 0 Vario CW 2011 10.000.000 0 Vario CW 2012 11.000.000 0 Vario Techno CBS 2009 10.100.000 0 Vario Techno CBS 2010 10.900.000 0 Vario Techno CBS 2011 11.800.000 0 Vario Techno CBS 2012 13.000.000 0 Vario Techno CBS 2013 14.400.000 0 Win 2002 3.800.000 0 Win 2003 4.200.000 0 Win 2004 4.600.000 0 Win 2005 5.000.000 0